Dokter Aminuddin: Merubah Budaya Butuh Komitmen dan Kerja Sama
Probolinggo, Satpres.com
Pemerintah Kota Probolinggo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyerahkan Penghargaan Trofi Proklim (Program Kampung Iklim) dan Penghargaan Adiwiyata Nasional serta Adiwiyata Mandiri Tahun 2025 di Puri Manggala Bhakti, Kamis (18/12/2025).
Penghargaan trofi Proklim Utama diserahkan kepada Proklim RW 4 Kelurahan Jrebeng Lor dan Sertifikat Proklim Utama kepada Proklim RW 2 Kelurahan Mayangan. Sementara Penghargaan Adiwiyata Mandiri Tahun 2025 kepada 1 sekolah yakni SDN Mangunharjo 1, serta 13 sekolah penerima Penghargaan Adiwiyata Nasional.
Kegiatan ini sebagai bentuk penguatan kader lingkungan agar tetap semangat melakukan aksi mitigasi dan adaptasi untuk Proklim yang berkelanjutan. “Dan untuk sekolah – sekolah supaya tetap melaksanakan program Adiwiyata secara berkelanjutan serta konsisten menerapkan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari – hari,” kata Retno Wandansari Kepala DLH Kota Probolinggo dalam laporannya.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin berharap budaya sadar lingkungan bisa terus berkembang di Kota Probolinggo. “Bapak – Ibu sekalian saya ucapkan selamat dan kita harapkan nanti ke depan sekolah – sekolah Adiwiyata ini, termasuk yang Adiwiyata Mandiri harus lebih banyak lagi, kalau sekarang masih kurang 50%, karena sekolah yang menerima 14, dan 2 kelurahan untuk Proklim. Harapannya kedepan seluruh sekolah Adiwiyata,” ujarnya.
Dokter Aminuddin menambahkan merubah budaya itu bukan sesuatu yang mudah dan diperlukan waktu yang lama, sehingga dibutuhkan komitmen dan kerja sama oleh semua pihak. Menurut para ahli diperlukan waktu paling tidak 50 tahun atau 2 generasi untuk merubah suatu budaya. “Ada cara cepat merubah generasi melalui pendidikan secara menyeluruh. Jadi Adiwiyata ini artinya mampu berbudaya lingkungan, bagaimana sikap kita sebagai manusia mencintai lingkungan, dimana kebudayaan itu terjadi terus – menerus, sehari – hari, dan sudah menjadi kebiasaan atau typical,” imbuhnya.
Orang nomor satu di Kota Probolinggo ini menyebut masih banyak hal yang perlu diperbaiki untuk bisa merubah perilaku atau budaya sadar lingkungan bisa diterapkan di kota ini. Proklim merupakan keberhasilan merubah budaya di suatu kelurahan, yang kini hanya diterapkan di wilayah Jrebeng Lor dan Kelurahan Mayangan.
“Saya berharap untuk yang mendapatkan penghargaan baik Adiwiyata maupun Proklim bisa terus mempertahankan dan menularkan kepada yang lain agar prosentase Sekolah Adiwiyata dan Proklim di Kota Probolinggo bisa meningkat,” harapnya.
Kepala SDN Mangunharjo 1 Jayawardana, mengaku senang dan bersyukur sekolahnya mendapat penghargaan Adiwiyata Mandiri Tahun 2025, dimana usaha dan budaya sadar lingkungan di sekolahnya sudah dimulai sejak tahun 2009. “Ini tahun ketiga kita pengajuan ke Adiwiyata Mandiri, 2 kali gagal. Ini tahun ketiga kita berupaya lagi dan Alhamdulillah bisa masuk Adiwiyata Mandiri. Kita selalu berupaya mewujudkan lingkungan dan budaya sadar lingkungan di sekolah,” jelas Jayawardana.
Budaya yang dimaksud mulai dari menjaga kebersihan, menciptakan lingkungan yang asri, menyediakan sampah terpilah di setiap kelas, mengurangi kemasan plastik, dan lain sebagainya. Kegiatan pembiasaan setiap hari didengungkan tidak hanya di media digital, tapi juga ke masyarakat sekitar, seperti kampanye kebersihan dan kesehatan.(yon).

