Probolinggo, Satpres.com
Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, waktu berjalan dengan cara yang berbeda bagi keluarga kecil ini. Setiap hari terasa seperti perlombaan, bukan untuk mengejar sesuatu, melainkan untuk menahan sesuatu agar tidak terjadi terlalu cepat. Yang mereka tahan adalah kemungkinan kehilangan.
Tawa kecil Nada Putri Masruri dulu kerap memenuhi ruang kelas taman kanak-kanak tempat ibunya mengajar. Ia sering ikut, duduk di sudut ruangan, atau sekadar berlarian kecil di antara anak-anak lain. Bagi orang tuanya, momen itu terasa seperti jawaban dari doa panjang yang mereka panjatkan selama tujuh tahun. Namun waktu, perlahan, mengubah segalanya.
Pada usia sekitar satu setengah bulan, ibunya mulai melihat sesuatu yang ganjil. Bagian putih mata Nada menguning. Warna tinjanya pucat. Awalnya, keluarga mengira itu hanya gejala biasa pada bayi, kurang minum atau kurang terpapar sinar matahari. Tidak terpikir akan separah ini, kata sang ibu, Siti Aisyah.
Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian membalik dugaan sederhana itu. Kadar bilirubin Nada sangat tinggi. Serangkaian pemeriksaan lanjutan mengarah pada satu diagnosis yang jarang terdengar: Atresia Bilier, kelainan pada saluran empedu yang membuat cairan empedu tidak dapat mengalir dengan normal. Kondisi itu perlahan merusak hati. Belum selesai di situ, dokter juga menemukan kelainan lain, jantung bawaan jenis ASD secundum.
Dari balita yang ceria, Nada berubah menjadi pasien kecil yang harus bolak-balik rumah sakit. Pada usia 95 hari, ia menjalani operasi Kasai, prosedur yang menjadi harapan awal bagi penderita Atresia Bilier. Tujuannya sederhana: membuat jalur baru agar empedu bisa mengalir keluar dari tubuh. Namun harapan itu tak bertahan lama. Operasi tersebut dinyatakan gagal. Kadar bilirubin Nada tidak kunjung turun, bahkan terus meningkat.
Sejak itu, waktu terasa berjalan lebih cepat dari yang diinginkan keluarga. Infeksi datang berulang. Demam, diare, hingga batuk pilek menjadi kondisi yang hampir rutin. Dalam beberapa fase, Nada mengalami penurunan kesadaran. Belakangan, kondisinya semakin berat, ia sempat mengalami muntah darah dan buang air besar berdarah, tanda kerusakan hati yang kian progresif.
Di rumah, hari-hari Nada dipenuhi rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan oleh anak seusianya. Tubuhnya terus terasa gatal akibat penumpukan bilirubin. Ia menggaruk kulitnya hingga luka. Saat dimandikan, ia sering menolak, air yang menyentuh luka-luka itu terasa perih. Perutnya membesar akibat pembengkakan hati dan limpa. Warna kulitnya menggelap.
Hingga kini, di usianya yang menginjak lebih dari dua tahun, Nada belum mampu berjalan sendiri. Semua aktivitasnya bergantung pada gendongan. Dia sebenarnya anak yang kuat, ujar ibunya. Kalau mau tindakan medis, dia seperti mengerti. Tetap menangis, tapi tidak pernah mempersulit.
Di tengah kondisi itu, satu-satunya harapan medis yang tersisa adalah transplantasi hati. Tanpa tindakan tersebut, fungsi hati Nada akan terus menurun, dengan risiko yang tidak lagi bisa ditunda. Ayah Nada, M. As’ad, bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah rumah sakit dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Ibunya, Siti Aisyah, seorang guru taman kanak-kanak, menerima upah sekitar Rp300 ribu per bulan.
Penghasilan itu bahkan nyaris tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya transplantasi hati yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Tabungan keluarga telah habis. Perhiasan sudah dijual. Pinjaman dari kerabat pun sudah diupayakan. Namun jumlah yang terkumpul masih jauh dari kebutuhan.
Di luar biaya operasi, kebutuhan harian Nada juga tidak ringan. Ia harus mengonsumsi susu khusus yang harganya ratusan ribu rupiah dan hanya cukup untuk beberapa hari. Perjalanan rutin dari Probolinggo ke Surabaya untuk kontrol juga menjadi beban tersendiri, tenaga, waktu, sekaligus biaya.
Meski demikian, keluarga ini belum berhenti berharap. Bagi mereka, setiap hari adalah upaya untuk menunda kemungkinan terburuk. Setiap doa adalah cara untuk menjaga harapan tetap tumbuh. Nada, anak yang ditunggu selama tujuh tahun itu, kini sedang berjuang melawan waktu.
Bagi Ayah-Ibu Nada, yang tersisa bukan lagi sekadar keinginan akan kesembuhan, melainkan satu harapan yang terus dipegang: kesempatan. Kesempatan agar Nada bisa mendapatkan transplantasi hati tepat waktu. Kesempatan agar suatu hari nanti, ia kembali berlari, bukan menuju ruang perawatan, melainkan ke masa kecil yang sempat tertunda.
Di tengah keterbatasan, keluarga Nada membuka harapan bagi siapa pun yang ingin membantu. Setiap dukungan, sekecil apa pun, sangat berarti untuk pengobatan dan rencana transplantasi hati Nada. Bantuan dapat disalurkan melalui: Link donasi: Selain donasi, dukungan doa dan penyebaran informasi ini juga sangat berarti. Bagi ayah dan ibu Nada, setiap bantuan bukan sekadar angka, melainkan tambahan waktu, agar Nada tetap bertahan dan memiliki kesempatan untuk sembuh.
